Ijazah Hilang atau Memang Tidak Pernah Ada?
Thomas Amirico, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, memberikan kesaksian yang mengejutkan. Ia menegaskan tidak ada data mengenai keikutsertaan Aries dalam ujian persamaan tahun 1995.
“Saya bentuk tim untuk menelusuri arsip, tetapi hasilnya nihil,” ungkap Thomas. Apakah ini indikasi bahwa ijazah Aries hanya “fiktif”?
KPU Pesawaran di Bawah Tekanan: Lalai atau Tutup Mata?
Kritik tajam mengarah ke KPU Pesawaran. Ketua KPU Fery Ikhsan menyatakan bahwa verifikasi administrasi hanya dilakukan jika ada laporan masyarakat atau Bawaslu. Pernyataan ini dinilai sebagai pengakuan kelalaian yang fatal. Bagaimana bisa calon bupati lolos tanpa bukti ijazah yang jelas?
Lebih kontroversial lagi, saat Aries mencalonkan diri pada 2010, 2015, dan 2019, tidak pernah ada persoalan terkait ijazah. Apakah ada yang “melindungi” pencalonan Aries selama ini?
Surat Whatsapp: Bukti atau Alibi Palsu?
Bawaslu Pesawaran juga tak luput dari sorotan. Menurut Fathunnajah, Bawaslu pernah meminta klarifikasi terkait ijazah Aries, tetapi hanya mendapat surat jawaban melalui WhatsApp dari Dinas Pendidikan Lampung.
“Surat itu tidak cukup kuat, tetapi tetap dijadikan dasar KPU menyatakan ijazah sah,” ujar Fathunnajah. Publik kini bertanya-tanya: apakah ada upaya sistematis untuk menyembunyikan kebenaran?
Tuntutan Diskualifikasi: Pemilu Pesawaran di Ambang Skandal Nasional
Pasangan calon nomor urut 2, Nanda Indira B dan Antonius Muhammad Ali, meminta MK membatalkan pencalonan Aries-Supriyanto. Mereka juga menyinggung utang Aries kepada Pemkab Pesawaran sebesar Rp386 juta yang belum dilunasi.
Apakah MK akan membongkar skandal ini hingga ke akar-akarnya? Atau justru akan ada “deal politik” di balik layar? Sidang lanjutan akan menjadi penentu nasib Pemilu Pesawaran dan reputasi banyak pihak yang terlibat. (***)











